merdeka

Penangkaran Penyu di Ujung Genteng Sukabumi

DaerahKita 29/05/2019

Ada banyak wisata ditawarkan di Sukabumi, termasuk wisata pantai. Tapi istimewa untuk kawasan Pantai Ujung Genteng, ada atraksi unik berupa penangkaran penyu dan pelepasan tukik ke laut. Selain sebagai daya tarik wisata, ada fungsi penting Balai Penangkaran Penyu Ujung Genteng, nama resmi untuk pusat pelestarian satwa langka di Sukabumi ini, yaitu untuk melestarikan keberadaan penyu di habitat aslinya.

Berlokasi di Desa Konservasi dan Ekowisata Pangumbahan, Ciracap, Sukabumi. awalnya penangkaran penyu ini dikelola swasta, tapi kini dikelola Pemda dinaungi oleh Kementerian Kelautan. Penangkaran itu ditangani serius pemerintah daerah karena spesies penyu yang bersedia bertelur di area ini makin sedikit. Mulanya ada penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu pipih (Ntartor detresa), dan penyu tempayan (Caretta caretta). Kini hanya penyu hijau yang masih bertelur di sini.

Baca Juga:

jelajahsukabumi
Tempat penetasan telur

Satwa penyu yang makin langka turut memunculkan keprihatinan dunia, karena itu mulai tahun 2000, tanggal 23 Mei setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Penyu Sedunia. Tujuannya adalah agar manusia dapat lebih sadar terhadap keberadaan penyu. Salah satu penyebab penyu terancam punah juga karena ulah manusia yang merusak habitat penyu.

Kegiatan penangkaran dimulai dengan proses penyu bertelur. Kawasan pantai di Ujung Genteng memang sering menjadi tempat penyu yang datang dari laut untuk bertelur saat malam hari. Para petugas dari penangkaran akan berjaga di kawasan pantai mulai dari jam tujuh malam hingga jam empat pagi untuk menjaga penyu bertelur. Saat musim bertelur, yakni sekitar bulan Juli-September, hampir setiap malam ada saja induk penyu yang datang untuk bertelur di pasir pantai.

Lamanya penyu bertelur akan memakan waktu sekitar satu hingga dua jam. Penyu akan naik ke pantai, menggali lubang, bertelur, dan menutup kembali lubang itu. Selesai penyu bertelur, sang induk akan kembali lagi ke laut melalui rute yang berbeda dengan rute kedatangan untuk mengecoh predator agar tidak dapat menemukan lokasi telurnya.

blog travelio
Tukik-tukik menuju ke laut lepas

Pengunjung yang ikut melihat proses penyu bertelur dilarang mengeluarkan suara dan menyalakan lampu atau sinar apapun. Penyu adalah satwa yang sangat sensitif terhadap suara dan cahaya. Jika suasana berisik, penyu akan merasa tidak aman dan terganggu sehingga proses bertelur mungkin akan gagal.

Setelah penyu bertelur, petugas penangkaran akan mengumpulkan telur setiap pukul 9.00 malam. Telur yang terkumpul lalu dimasukkan ke area penetasan semi alami. Di sebut semi alami karena area 400 meter persegi ini dikondisikan sedemikian rupa, seperti pantai.

Pasir dikumpulkan di penetasan, di dalamnya dilengkapi lingkaran-lingkaran kawat yang diberi papan kecil bertuliskan data tentang jumlah telur masuk ke tiap lingkaran kawat dan tanggal telur menetas. Setelah menetas, bayi-bayi penyu atau disebut ‘tukik’ dikumpulkan di baskom, untuk siap-siap dilepaskan di pantai, tukik memilii nalurii untuk pergi ke laut setelah mentas. Jadi biasanya satu hari setelah mereka menetas, tukik-tukik ini memang langsung dilepas liar, karena kalau terlalu lama akan bisa merusak insting alami mereka.

baltyra
Induk penyu bertelur di pantai

Pelepasan tukik ke laut merupakan fase penting dalam pelestarian penyu. Pengunjung bisa ikut melihat langsung proses pelepasan tukik di pantai. Setiap orang akan diberikan satu ekor tukik dari penangkaran untuk dilepaskan. Ini penting untuk edukasi masyarakat juga. Mereka akan lebih bersimpati merasakan perjuangan tukik dengan langkah kecilnya berjalan perlahan menuju laut lepas dan berjuang melawan ombak yang datang menyapu si tukik mungil.

Sore hari merupakan waktu yang paling tepat untuk melepaskan tukik. Ini karena jika dilakukan pagi hari dikhawatirkan tukik akan dimakan predator. Sementara waktu siang panas hari terasa sangat panas. Mereka tak tahan panas, sementara tukik sangat tidak tahan cuaca panas.

Wisata penangkaran penyu di Ujung Genteng ini sangat layak dipertimbangkan untuk jadi alternatif waktu mengisi liburan sekolah anak-anak, karena sarat dengan kegiatan hiburan yang edukatif. Membuat kita lebih memahami lagi kehidupan satwa langka yang masih tersisa melalui pengamatan secara langsung di lapangan, di samping menikmati pemandangan alam tepi pantai yang cantik terutama saat matahari tenggelam.

Tags penyu hewan satwa fauna wisata alam reptilia
Referensi: Dari berbagai sumber





Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0