Halaman utama daerahkita.com
Halaman utama daerahkita.com
indonesiatera

Martha Christina Tiahahu, Pahlawan Wanita dari Nusalaut Gigih Melawan Belanda

DaerahKita 30/03/2023

Di antara pahlawan wanita Indonesia kita mengenal nama Martha Christina Tiahahu sebagai figur pemberani dan pantang menyerah. Martha Christina Tiahahu lahir pada 4 Januari 1800 di Nusalaut, Maluku. Christina kecil bersama keluarganya tinggal di Desa Abubu, Nusalaut. Dia merupakan anak sulung dari Kapitan Paulus Tiahahu. Saat masih berusia remaja, Christina mendampingi ayahnya berjuang melawan Belanda.

Di usianya yang masih belia yakni 17 tahun, Martha Christina Tiahahu telah ikut mengangkat senjata menghadapi tentara Belanda. Tak heran, sebab ayahnya, Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang membantu Thomas Matulessy dalam Perang Pattimura tahun 1817. Martha bersama ayahnya ikut terlibat dalam pertempuran tersebut.

Marta mulai angkat senjata dan ikut dalam pertempuran melawan Belanda di Desa Ouw dan Ulat, Pulau Saparua. Bahkan dia memimpin pasukan perang wanita dan mengobarkan semangat juang.

Para wanita ini bahkan ikut mendampingi pasukan pria dalam perebutan wilayah Maluku dari penjajah. Perjuangan mereka hanya mengandalkan senjata bambu runcing dengan ikat kepala melingkar di kepala. Semangat Martha bersama pejuang di Maluku cukup membuat kerepotan Belanda.

Pada 17 Mei 1817, Benteng Duurstede berhasil dikuasai oleh pasukan Maluku, disusul dengan jatuhnya Benteng Beverwijk. Pasukan Belanda yang berada di dalam kedua benteng tersebut pun tewas.

Belanda lalu mengerahkan Kapal Zwalau untuk merebut kembali Benteng Beverwijk. Namun, berkat kegigihan perjuangan Christina dan ayahnya, Benteng Beverwijk berhasil dipertahankan. Belanda pun mengganti strategi untuk merebut Benteng Beverwijk. Belanda menyusupkan seorang guru yang bernama Sosalia untuk memasuki benteng itu. Dengan mengatasnamakan Raja Nusalaut, Sosalisa mengatakan bahwa para raja telah bersepakat untuk berdamai dengan Belanda. Tipu muslihat itu pun berhasil. Pada 10 November 1817 Belanda kembali menguasai Benteng Beverwijk.

Setelah berhasil menguasai Benteng Beverwijk, Belanda melakukan penangkapan terhadap Christina dan ayahnya. Christina berhasil melarikan diri ke hutan, sedangkan sang ayah, Kapitan Paulus, gugur ditembak mati oleh pihak Belanda. Christina berusaha mengumpulkan pasukan ayahnya yang ter- sisa untuk kembali melanjutkan perjuangan melawan Belanda. Namun, usahanya gagal dan Belanda berhasil menangkap Christina.

Belanda memberikan hukuman kerja paksa di perkebunan kopi di Pulau Jawa. Christina bersama 39 tawanan lainnya dibawa menuju Pulau Jawa dengan menggunakan Kapal Eversten. Dalam perjalanan tersebut, Christina melakukan mogok makan dan minum. Akhirnya, Martha Christina Tiahahu jatuh sakit. Pada 1 Januari 1818, Christina wafat di Kapal Eversten yang membawanya. Jenazah sang pahlawan Nusalaut itu kemudian disemayamkan di Laut Banda.

Pada 20 Mei 1969, berdasarkan Kep No. O12/TK/1969, pemerintah menobatkan Martha Christina Tiahahu sebagai pahlawan. Untuk mengenang perjuangan dan pengorbanannya, pemerintah daerah Maluku membuat Monumen Martha Tiahahu. Monumen tersebut terletak di daerah perbukitan Karang Panjang sehingga bisa terlihat jelas dari kota Ambon. Monumen itu menjadi bukti sejarah keberanian wanita Maluku dalam melawan penjajahan bangsa asing. Namanya juga diabadikan sebagai nama sebuah taman di Kebayoran Baru Jakarta, yaitu Taman Literasi Martha Christina Tiahahu.

Tags pahlawan sejarah nasional edukasi tokoh pendidikan sekolah pejuang biografi Hindia Belanda
Referensi:
  • Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa, oleh Didi Junaedi, Indonesia Tera, 2014
  • www.rri.co.id
  • vredeburg.id




  • Semua Komentar
      Belum ada komentar
    Tulis Komentar