wahyumedia

Timun Emas, Cerita Rakyat Jawa Tengah

DaerahKita 02/09/2020

Di sebuah desa, hiduplah sepasang petani tua. Dia adalah Mbok Sirni dan suaminya. Sudah lama sekali mereka mendambakan hadirnya seorang anak. Akan tetapi, hingga saat itu, Mbok Sirni dan suaminya belum juga dikaruniai anak. Mereka lalu berdoa agar segera dapat menimang anak.

Ketika itu, seorang raksasa mendengar doa tersebut. Ia pun mendatangi mereka. "Hai, apakah kalian benar-benar ingin memiliki seorang anak? Jika kalian menginginkannya, aku akan bantu. Tapi, ada satu syarat yang harus kalian penuhi. Jika anak kalian sudah berumur enam tahun, kalian harus memberikan anak itu kembali kepadaku untuk aku makan," ucap raksasa dengan suaranya yang besar.

Karena keinginan yang sangat mendalam untuk mendapatkan seorang anak, pasangan itu akhirnya menyetujui persyaratan di raksasa. Setelah itu, raksasa memberikan biji timun untuk ditanam dan dirawat sampai berbuah.

"Untuk apa raksasa itu memberikan biji timun ini ya Pak? Apa ini bisa membuat kita memiliki seorang anak?" tanya Mbok Sirni pada suaminya.

"Aku juga tidak mengerti. Lebih baik, kita ikuti saja petunjuk dari si raksasa itu," jawab suami Mbok Sirni.

Kemudian, mereka mengikuti petunjuk raksasa. Biji timun yang diberikan oleh raksasa ditanam dan dirawatnya dengan baik. Setelah dua minggu, tanaman timun sudah mulai berbuah. Di antara buah timun yang ada, terdapat satu timun yang ukurannya sangat besar dan berwarna keemasan.

Ketika buah yang paling besar itu semakin besar dan tampak masak, Mbok Sirni dan suaminya memetik timun tersebut. Mereka membelah timun tersebut dengan hati-hati. Betapa kagetnya pasangan itu melihat seorang bayi perempuan mungil dan lucu ada di dalam buah tersebut. Mereka sangat bahagia dan bersyukur karena penantian untuk mendapatkan seorang anak akhirnya terwujud. Bayi kecil itu diberi nama Timun Emas.

Mbok Sirni dan suaminya sangat bahagia melihat Timun Emas tumbuh sehat menjadi gadis yang cantik. Mereka sangat menyayangi Timun Emas. Suatu hari, sang raksasa datang menagih janji Mbok Sirni dan suaminya untuk menyerahkan kembali anak mereka. Mbok Sirni dan suaminya tidak rela kehilangan anaknya, mereka berusaha mengulur janjinya agar raksasa datang dua tahun lagi.

"Maaf Tuan Raksasa, bukan kami hendak mengingkari janji, tapi Timun Emas masih sangat kecil dan tidak enak untuk dimakan. Tunggulah dua tahun lagi, ia akan semakin besar dan enak untuk dimakan," Mbok Sirni beralasan.

Raksasa itu pun mengikuti keinginan Mbok Sirni. Ia berkata, "Kau benar. Semakin besar Timun Emas, semakin enak untuk dimakan. Ha...ha...ha..."

Hari demi hari berlalu, waktu yang dijanjikan semakin dekat. Mbok Sirni dan suaminya semakin tidak rela melepas Timun Emas. Mereka gelisah jika suatu hari raksasa akan datang untuk mengambil anak kesayangannya. Suatu malam, Mbok Sirni bermimpi. Dalam mimpi itu ia harus menemui petapa di Gunung Gundul agar anaknya selamat. Ia pun memberitahukan mimpinya itu kepada suaminya. "Coba kita cari saja petapa itu di Gunung Gundul, Bu. Siapa tahu ini adalah petunjuk dari Dewata," ucap suaminya.

Mereka pun berangkat ke Gunung Gundul. Benar saja, di sana ada seorang petapa yang sangat sakti. Petapa itu memberi Mbok Sirni dan suaminya empat bungkusan kecil yang berisi biji timun, jarum, garam, dan terasi sebagai penangkal.

Setibanya mereka di rumah, Mbok Sirni memanggil Timun Emas. Mbok Sirni dan suaminya memberikan empat bungkusan kecil itu kepada Timun Emas sambil memberikan nasihat dan menyuruh Timun Emas untuk berdoa, "Anakku, jika suatu hari raksasa datang dan hendak menangkapmu, larilah engkau sekencang mungkin. Jangan lupa kau taburkan isi dari empat kantong ini satu per satu untuk melindungimu dari kejaran raksasa," nasihat Mbok Sirni dan suaminya.

Hari yang dijanjikan datang juga. Raksasa datang menemui mereka. Ia menagih janji kepada Mbok Sirni dan suaminya untuk menyerahkan Timun Emas. Ketika itu, mereka sudah menyuruh Timun Emas pergi keluar lewat pintu belakang. "Hai Petani, mana anakmu? Aku sudah tidak sabar untuk memakannya. Serahkan dia kepadaku!" perintah raksasa.

"Maaf Tuan Raksasa, Timun Emas sedang pergi bermain. Biar istriku pergi mencarinya," dalih suami Mbok Sirni. Raksasa curiga ia menyadari bahwa dirinya telah ditipu oleh pasangan petani itu. Ia pun marah. Ladang dan rumah milik kedua petani itu dihancurkan. Ia pun segera mencari Timun Emas.

Ketika Raksasa sedang kalap, ia melihat sesosok gadis yang sedang berlari di kejauhan. Ternyata gadis itu adalah Timun Emas. Meskipun Timun Emas sudah berlari sangat jauh, tapi tetap saja sang raksasa dengan tubuh dan langkahnya yang besar dapat dengan mudah mengejar Timun Emas.

Ketika raksasa mulai mendekat, Timun Emas mengeluarkan penangkal yang diberikan orang tuanya. Pertama, ia mengeluarkan biji timun dan menebarkannya di depan raksasa. Biji-biji timun itu berubah menjadi ladang timun yang lebat buahnya. Melihat hal itu, raksasa berhenti mengejar Timun Emas. Ia asyik memakan buah timun di ladang itu. Namun, ketika menyadari incarannya sudah mulai pergi jauh, ia kembali mengejar. Bahkan kekuatannya bertambah setelah memakan banyak timun dari ladang tersebut.

Timun Emas terus berlari. Tapi tetap saja dapat dikejar oleh raksasa. Kali ini Timun Emas mengeluarkan penangkalnya yang kedua yaitu jarum. Ditebarkanlah jarum itu di jalan yang telah ia lewati. Hal yang ajaib pun terjadi lagi. Jarum-jarum itu berubah menjadi pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Raksasa kesulitan mengejar Timun Emas. Kakinya terluka tertusuk bambu-bambu yang tajam. Meskipun demikian, raksasa berusaha mengejar Timun Emas. Ia masih membayangkan lezatnya daging Timun Emas untuk dimakan.

Meskipun Timun Emas tidak berhenti berlari, raksasa selalu dapat mengejarnya walaupun dengan kaki terluka. Tangan raksasa yang sangat besar sudah hampir menggapai Timun Emas. Akhirnya, Timun Emas mengeluarkan penangkalnya yang ketiga, yaitu garam. Garam tersebut ditaburkan si sepanjang jalan yang telah ia lewati. Keajaiban terjadi lagi. Garam ditaburkan berubah menjadi lautan luas. Raksasa pun harus berenang untuk mengejar Timun Emas. Dengan susah payah, raksasa pun berhasil tiba di tepian. Ia mulai kelelahan. Napasnya terengah-engah. Tapi, ia tetap berusaha mengejar Timun Emas.

Sekarang, hanya tersisa satu penangkal lagi, yaitu terasi. Terasi itu ditaburkan Timun Emas di jalan yang sudah dilaluinya. Kini, jalanan itu berubah menjadi lautan lumpur hitam. Raksasa yang sudah kehabisan tenaga akhirnya terjebak di lumpur hitam itu. Dengan tenaga yang tersisa, raksasa berusaha keluar dari lumpur tersebut. Semakin banyak ia bergerak, semakin ia terisap masuk ke dalam lumpur hitam yang ternyata adalah lumpur hidup. Akhirnya, Raksasa itu mati tenggelam. Timun Emas pun kembali ke rumahnya. Kedua orang tuanya sangat bahagia melihat Timun Emas datang dengan selamat. Kini, Timun Emas dan orang tuanya hidup dengan tenang dan bahagia.

Pesan Moral:

Berusahalah dan berdoalah jika sedang mendapatkan cobaan atau masalah. Sebab, masalah akan dapat terselesaikan dengan baik.

Baca Juga:

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:

Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Oleh: Sumbi Sambangsari

Penerbit: Wahyumedia







Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0