jatimtimes

Ismail Marzuki, Berjuang Melalui Karya Musik

DaerahKita 26/08/2020

Ismail Marzuki lahir pada 11 Mei 1914 di Kwitang, Batavia (sekarang Jakarta). Beliau seorang maestro seniman asli Betawi yang sangat mengagumi musik-musik dari Prancis dan Italia. Latar belakang pendidikannya diawali dari sebuah pesantren, lalu dilanjutkan dengan menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS, sekolah Belanda untuk bumiputera) Idenburg, Menteng sampai tamat. Setelah itu beliau melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Menjangan, Jakarta.

Bekal ijazah MULO dan fasih berbahasa Inggris serta Bahasa Belanda, menjadi modal awal ia diterima bekerja di Socony Service Station. Bekal itu juga yang mempermudah Ismail dalam mempelajari musik. Berlanjut bekerja di perusahaan dagang KK Nies, yang menjual piringan hitam dan alat musik.

Beliau begitu meminati musik. Sejak remaja, beliau tergabung dalam sebuah orkes musik dan piawai memainkan alat musik petik, terutama gitar. Ismail Marzuki kemudian bergabung dengan orkes musik Lief Java pimpinan Hugo Dumos. Ismail Marzuki memainkan beberapa alat musik, seperti gitar, saksofon, dan harmonium pompa.

Ismail kreatif mengaransemen lagu dari beragam aliran musik. Mulai dari lagu barat, irama keroncong, lagu religi sampai langgam melayu. Pada lagu melayu, ia melakukan terobosan dengan memasukkan instrumen akordeon ke dalam langgam Melayu, sebagai ganti harmonium pompa.

Tak lama berselang, ia mendapatkan kesempatan untuk tampil dalam siaran Nederlands Indische Omroap Maatschapij. Pada masa penjajahan Jepang, Ismail turut aktif dalam orkes radio pada Hozo Kanri Keyku, Radio Militer Jepang. Ketika Jepang menyerah dan Indonesia Merdeka, Ismail tetap meneruskan siaran musiknya di RRI. Lalu RRI kembali dikuasai Belanda pada tahun 1947, Ismail yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda memutuskan untuk keluar dari RRI.

Ia baru kembali bekerja di radio setelah RRI berhasil diambil alih. Di masa ini, Ia kemudian memimpin Orkes Studio Jakarta dan menciptakan lagu Pemilihan Umum dan diperdengarkan pertama kali dalam Pemilu 1955.

Keterpesonaan Ismail Marzuki pada sisi romantisme masa perjuangan melahirkan lagu-lagu bertema cinta dan perjuangan. Meski karyanya tampak sederhana, syairnya sangat kuat, melodius, dan punya nilai keabadian. Pada 1931 Ismail Marzuki mulai menciptakan lagu "O Sarinah" yang menggambarkan kehidupan bangsa yang tertindas.

Ismail Marzuki menciptakan 250 lagu dengan berbagai tema dan jenis aliran musik yang memesona. Lagu-lagu ciptaannya antara lain "Rayuan Pulau Kelapa" (1944). "Gugur Bunga" (1945), "Halo-Halo Bandung" (1946), "Selendang Sutra" (1946), dan "Melati di Tapal Batas" (1947).

Ismail Marzuki wafat pada 25 Mei 1958 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta. Pada 5 November 2004, berdasarkan Keppres No.089/TK/2004, pemerintah menobatkan Ismail Marzuki sebagai pahlawan nasional. Nama beliau diabadikan sebagai pusat kesenian di Jakarta, yaitu Taman Ismail Marzuki (TIM).

Baca Juga:

Tags pahlawan sejarah nasional edukasi tokoh seniman pejuang biografi
Referensi:
  1. Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa, oleh Didi Junaedi, Indonesia Tera, 2014
  2. republika.co.id






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0