facebook

Kukang Bangka, Hewan Malu-malu Yang Semakin Langka

DaerahKita 17/08/2020

Kukang bangka atau nama ilmiahnya Nycticebus bancanus (Lyon, 1906) adalah sejenis kukang yang menyebar di Pulau Bangka dan Pulau Kalimantan bagian baratdaya. Dideskripsi pertama kali pada 1906, takson ini dahulu dianggap sebagai varian atau bagian dari kukang borneo (N. menagensis atau N. coucang menagensis) hingga kajian pada 2012 memperlihatkannya sebagai spesies tersendiri yang valid.

Kukang atau disebut juga Malu-malu merupakan primata yang mempunyai gerakan lambat, tak heran dalam bahasa Inggris satwa ini dikenal dengan nama Slow loris yang berarti kukang yang lambat. Kukang merupakan hewan primata yang geraknya paling lambat di dunia. Ini membuatnya menjadi mangsa yang mudah bagi para predator. Ancaman atau pemangsa alami kukang adalah ular sanca, burung elang, macan ataupun kucing hutan.

Untuk mengimbangi geraknya yang lambat, kukang menggunakan mekanisme defensif dalam melindungi dirinya yaitu dengan racun yang dihasilkan tubuhnya. Kukang merupakan satu-satunya spesies hewan primata yang memiliki racun. Kukang memiliki kelenjar brakialis yang menghasilkan sekresi berupa cairan bening berwarna kekuningan, dan mengeluarkan aroma yang tidak menyedapkan.

Kelenjar brakialis ini berada di sisi dalam kedua lengan kukang. Hewan pemalu ini akan menggosokkan kelenjar ini ke bagian tubuhnya atau tubuh anaknya sebagai sikap bertahan ketika merasa terganggu atau terancam. Hal serupa juga dilakukan oleh induk kukang, jika ingin meninggalkan anaknya untuk pergi mencari makan.

Gigitan kukang juga berbahaya. Tidak seperti ular yang taringnya berbisa, gigi kukang sejatinya tidak beracun. Keberadaan racun pada gigi, lebih disebabkan oleh aktivitas perawatan tubuh mereka, sehingga cairan bening brakialis memasuki mulut mereka, dan bercampur dengan air liur yang menghasilkan cairan beracun. Karena itu, sebaiknya jangan coba-coba mengganggu hewan ini kalau tidak ingin kena gigitan beracun.

Kukang bangka dicirikan oleh pola pewarnaan wajah yang terang, dengan ujung atas cincin gelap sekeliling mata yang baur di pinggiran atasnya. Tepi bawah cincin gelap itu tidak pernah melewati lengkung (tulang) pipi. Jalur pucat di antara kedua matanya lebar; pola atau bercak besar di ubun-ubunnya sering baur (kabur) tepi-tepinya. Telinganya berambut panjang, dan pita pucat di depan telinganya sempit. Panjang tubuh rata-rata sekitar adalah 258,05 mm. Sementara bobot tubuh jenis-jenis kukang di Kalimantan berkisar antara 265–610 gram.

Salah satu ciri khas yang mudah dikenali pada satwa kukang adalah matanya yang besar. Mata tersebut tidak bergerak, hanya berorientasi ke depan, sehingga hewan ini harus menolehkan kepalanya jika mereka ingin mengubah sudut pengelihatannya.

Kukang juga buta warna, dan hanya dapat mengidentifikasi obyek dalam warna hitam, dan putih. Ini merupakan bagian dari adaptasi mereka sebagai hewan yang aktif di malam hari atau nokturnal. Kukang juga merupakan salah satu spesies yang memiliki tapetum lucidum atau lapisan reflektif di belakang retina matanya. lapisan ini sangat membantu pengelihatan kukang ketika berburu di malam hari.

Hingga saat ini, kukang masih dapat ditemukan di bagian selatan Asia, Timur Laut India, Myanmar, Cina bagian selatan, dan Asia Tenggara. Satwa ini tersebar di Kamboja, Vietnam Malaysia, Indonesia, dan Filipina, yaitu di Kepulauan Sulu. Di Indonesia, populasi kukang terdapat di pulau Sumatera, pulau Jawa, dan pulau Kalimantan. Tapi populasi satwa ini semakin berkurang.

Status konservasi populasi kukang bangka belum ditetapkan. Akan tetapi sebelum dipisahkan menjadi 4 spesies, kukang borneo dikategorikan sebagai Vulnerable (Rentan) dalam Daftar Merah IUCN atau International Union for Conservation of Nature (2008). Semua jenis kukang masuk ke dalam Apendiks I CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti dilarang diperdagangkan secara internasional. Jenis ini (sebagai anak-jenis N. coucang) juga dilindungi oleh perundang-undangan negara Indonesia semenjak 1973. Adalah tanggungjawab kita semua untuk menjaga kelestarian kukang bangka. Agar kelangsungannya tetap terjaga hingga ke generasi mendatang.

Tags satwa fauna hewan binatang edukasi alam lingkungan biologi keanekaragaman hayati
Referensi:
  1. www.bianglalahayati.com
  2. id.wikipedia.org/wiki
  3. alamendah.org






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0