setubabakanbetawi

Mohammad Husni Thamrin, Pahlawan Nasional dari Betawi

DaerahKita 12/08/2020

Mohammad Husni Thamrin lahir pada 16 Februari 1894 di Sawah Besar, Batavia atau Betawi (sekarang Jakarta). Beliau berasal dari golongan keluarga berada. Ayahnya adalah seorang Wedana dibawah gubernur jenderal Johan Cornelis van der Wijck. Wedana adalah pembantu Bupati yang membawahi beberapa orang Camat.

Setelah menamatkan pendidikan di Gymnasium King Willem II (setingkat SMA) beliau bekerja di kantor kepatihan dengan prestasi kerja yang baik. Beliau kemudian dipindahkan ke Kantor Karesidenan sebelum akhirnya bekerja di KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij).

Sejak masa sekolah, M.H. Thamrin sudah tertarik pada politik. Ia sering berkumpul dengan pemuda-pemuda dari berbagai perkumpulan yang berjuang untuk kemerdekaan bangsa. Pada 1919 saat berumur 25 tahun, M. Husni Thamrin diangkat sebagai anggota Dewan Kota (Gemeenteraad) Batavia atau Dewan Kotapraja Betawi. Prestasi beliau di Kota Batavia terus meningkat. Di sinilah dia memperjuangan kehidupan masyarakat pribumi. Ia membangun sekolah untuk rakyat, membangun sarana kesehatan, memasang penerangan jalan, dan membangun kanal untuk mencegah banjir dari sungai Ciliwung.

Pada 1923, M. Husni Thamrin diangkat menjadi Ketua Organisasi Kumpulan Kaum Betawi. Tujuan organisasi ini adalah memajukan perdagangan, pendidikan, dan kesehatan masyarakat. Puncaknya, M. Husni Thamrin diangkat sebagai Wakil Walikota Batavia.

Pada 1927 Mohammad Husni Thamrin diangkat sebagai anggota Volksraad (artinya "Dewan Rakyat"), semacam dewan perwakilan rakyat Hindia Belanda. Beliau juga diangkat menjadi ketua Partai Indonesia Raya (Parindra) menggantikan dr. Soetomo.

Saat berada di Volksraad, Mohammad Husni Thamrin adalah seorang yang kooperatif. Beliau mau bekerja sama dengan Belanda, namun tidak merasa loyal kepada Belanda karena pada dasarnya kooperatif dan non kooperatif mempunyai tujuan yang sama, yakni Indonesia merdeka. Ini terlihat ketika beliau menyampaikan laporan investigasinya terhadap kuli perkebunan di Sumatera Timur di depan Volksraad. Beliau mengungkapkan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan pengusaha perkebunan terhadap kuli. Laporan tersebut memancing reaksi Amerika Serikat yang menuntut pemerintah Hindia Belanda untuk melakukan perbaikan nasib kuli. M. Husni Thamrin juga mengajukan mosi agar istilah "Nederlands Indie" diganti dengan Indonesia. Mosinya ditolak Belanda walaupun mendapatkan dukungan dari sebagian besar anggota Volksraad.

Belanda mulai mencurigai kegiatan M. Husni Thamrin. Pada 6 Januari 1941 beliau dikenakan tahanan rumah dengan tuduhan tidak setia kepada Belanda dan bersekutu dengan Jepang. Teman-teman beliau bahkan tidak diijinkan berkunjung saat beliau sakit. Mohammad Husni Thamrin wafat pada 10 Januari 1941 di kediamannya dan dimakamkan di Pemakaman Karet, Jakarta. Pada 28 Juli 1960, berdasar Keppres No.175/1960, pemerintah Indonesia menobatkan Mohammad Husni Thamrin sebagai pahlawan. Namanya diabadikan sebagai salah satu jalan protokol di Jakarta dan proyek perbaikan kampung besar-besaran di Jakarta yang disebut "Proyek MHT", pada tahun 1970-an.

Baca Juga:

Tags pahlawan sejarah nasional edukasi tokoh politik pejuang biografi
Referensi:
  1. Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa, oleh Didi Junaedi, Indonesia Tera, 2014
  2. www.setubabakanbetawi.com






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0