wahyumedia

Dendam Lembusura, Cerita Rakyat Jawa Timur

DaerahKita 07/08/2020

Dyah Ayu Pusparani adalah putri yang cantik jelita. Ia anak dari Raja Brawijaya penguasa Kerajaan Majapahit. Banyak raja dari kerajaan lain yang menyukai dan melamar dirinya untuk dijadikan permaisuri. Sang raja sangat bingung untuk memilih calon menantu. Akhirnya dibuatlah sebuah sayembara yang dapat diikuti oleh semua pemuda dari semua kalangan.

Suatu hari, sang patih dan beberapa pengawal hadir di tengah-tengah rakyat Kerajaan Majapahit untuk memberikan sebuah pengumuman. Gong yang dibunyikan oleh pengawal kerajaan menandakan sebuah pengumuman penting dari Raja Brawijaya, Saat itu, semua rakyat berkumpul. Mulai dari yang muda hingga tua, dari anak kecil hingga orang dewasa, semua datang berbondong-bondong untuk mendengar pengumuman.

"Pengumuman-pengumuman..., Baginda Raja Brawijaya akan mencari calon suami untuk Putri Dyah Ayu Pusparani. Oleh karena itu, baginda mengadakan sayembara yang dapat diikuti oleh semua pemuda dari berbagai kalangan. Bagi siapa saja yang dapat merentangkan busur sakti Kyai Garodayaksa dan sanggup mengangkat gong besar Kyai Sekardelima akan dinikahkan dengan Putri Pusparani."

Setelah mendengar pengumuman itu, semua pemuda tertarik untuk mengikuti sayembara. Para pemuda dari berbagai kalangan berlomba-lomba melatih diri agar dapat memenangkan sayembara. Ada yang berlatih memanah, adapula yang berlatih mengangkat batu-batu gunung yang ukurannya sangat besar dan berat. Mereka sangat ingin menjadi pendamping putri nan cantik jelita.

Hari pelaksanaan sayembara yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Semua rakyat berkumpul di tempat sayembara yang sudah disiapkan oleh petugas kerajaan. Semua pemuda dari berbagai kalangan sudah mempersiapkan diri untuk dapat memenangkan sayembara itu.

Satu demi satu para peserta sayembara menguji kemampuannya. Tapi, tidak ada seorang pun yang berhasil merentangkan busur panah, apalagi mengangkat gong Kyai Sekardelima.

Pada akhir masa sayembara, datanglah seorang pemuda berkepala lembu. Ia bernama Raden Lembusura atau Raden Wimba. Semua orang yang hadir menyaksikan sayembara itu tampak aneh melihat penampilan Raden Lembusura yang berbeda dengan pemuda pada umumnya.

Raden Lembusura mencoba merentangkan busur sakti Kyai Garodayaksa. Ajaib. Busur itu berhasil direntangkannya. Kini, tinggal satu syarat lagi yang harus dilakukannya yaitu mengangkat gong Kyai Sekardelima. Dengan percaya diri, Lembusura mengangkat gong yang besar itu. Dan, hap! Dalam waktu singkat, gong Kyai Sekardelima berhasil diangkat.

Untuk kesekian kalinya, penonton yang menyaksikan sayembara dibuat tercengang olehnya. Dari sekian banyak pemuda yang mengikuti sayembara, hanya Raden Lembusura yang berhasil melakukan syarat-syarat yang diminta oleh Baginda Brawijaya. Dengan demikian, Raden Lembusura berhak menikahi Putri Dyah Ayu Pusparani.

Mengetahui itu, Dyah Ayu Pusparani segera meninggalkan sitihinggil (dibaca:sitinggil yang artinya bangunan terbuka yang lantainya tinggi, merupakan bagian bangunan keraton yang terdepan). Ia tidak pernah menyangka bahwa suaminya kelak memiliki wajah yang mirip seekor lembu. Hatinya sedih dan galau. Ia ingin sekali menolak hasil sayembara. Tapi, janji seorang raja tidak dapat diingkari. Ia tidak tahu harus berbuat apa.

Dyah Ayu kemudian menemui emban kepercayaannya. "Emban, aku tidak mau menikah dengan Lembusura. Meskipun ia sangat sakti, aku tetap tidak mau menikah dengan orang yang berwajah lembu itu," ucap sang putri sambil menangis tersedu-sedu.

Sang emban merasa iba melihat sang putri yang menangis. Ia pun mencari cara untuk membatalkan pernikahan sang putri dengan Lembusura. "Putri, hamba mendapatkan cara untuk membatalkan pernikahan. Bagaimana jika Putri memberikan satu syarat lagi kepada Lembusura. Cari syarat yang sekiranya tidak mungkin berhasil dilaksanakan oleh Lembusura," usul emban.

"Kira-kira, apa yang tidak bisa ia lakukan ya, emban?" tanya sang putri.

"Begini saja. Bagaimana jika Lembusura harus membuat sebuah sumur di puncak Gunung Kelud? Sepertinya hal itu sangat tidak mungkin terwujud karena Gunung Kelud merupakan gunung berapi. Jadi, tidak mungkin terdapat mata air di dalamnya," usul emban.

"Baiklah, emban. Aku akan mengajukan syarat itu kepada Lembusura. Terima kasih atas saranmu," ucap sang putri.

Akhirnya Dyah Ayu Pusparani datang menemui Lembusura yang sudah sejak lama menunggu kedatangannya. Dengan tetap bersikap manis, sang putri memberikan selamat atas keberhasilan Lembusura memenangkan sayembara. Lembusura yang sakti kemudian meminang sang putri. Namun, sesuai yang telah direncanakan sebelumnya, Putri Dyah Ayu Pusparani mengajukan syarat yang disarankan sang emban.

"Demi cintaku padamu, akan kulakukan syarat itu," ucap Lembusura kepada sang putri.

Kemudian, pergilah Lembusura ke puncak Gunung Kelud. Dengan kesaktiannya, Lembusura ternyata berhasil membuat sebuah lubang yang sangat dalam. Melihat hal itu, Putri Dyah Ayu tampak bingung. Baginda Brawijaya pun mengetahui kegundahan putrinya. Sebenarnya, Baginda Brawijaya juga tidak rela jika putri semata wayangnya harus menikah dengan Lembusura yang berwajah aneh. Sang putri akhirnya meminta bantuan ayahandanya untuk mencegah pernikahan itu.

Bagi Brawijaya akhirnya mendapatkan cara. Satu-satunya jalan untuk menggagalkan rencana itu adalah dengan mengubru hidup-hidup Lembusura. Ketika Lembusura sedang sibuk menggali lubang sumur, Baginda Brawijaya memerintahkan para pengawalnya untuk segera menimbun sumur itu dengan bebatuan yang besar dan tanah. Dalam waktu singkat, sumur itu kembali rata dengan tanah. Alhasil, Lembusura terkubur di dasar lubang itu.

Namun, karena Lembusura adalah orang yang sakti, ia pun masih sempat untuk mengancam Baginda Brawijaya. "Hei Baginda Brawijaya, kau benar-benar licik. Meskipun kau berhasil menguburku, aku tetap bisa membalasmu. Kau hanya bisa mengubur jasadku, tapi jiwaku masih bisa bebas. Ingatlah, setiap dua windu sekali (satu windu sama dengan delapan tahun. Dua windu berarti enam belas tahun) aku akan membalaskan dendamku. Akan aku rusak tanah dan seluruh yang hidup di kerajaanmu!"

Suara Lembusura semakin lama semakin lenyap. Semua yang mendengar hal itu sangat takut dengan ancaman Lembusura. Begitu pula dengan Baginda Brawijaya dan Putri Dyah Ayu Pusparani. Maka, untuk mencegah agar Lembusura tidak dapat keluar dari lubangnya, dibuatlah sebuah tanggul pengaman. Sekarang tanggul itu dikenal dengan nama Gunung Pagar.

Hingga kini, banyak penduduk sekitar yang mempercayai bahwa Gunung Kelud yang meletus merupakan pembalasan dendam Lembusura kepada Baginda Brawijaya. Kisah ini mirip dengan kisah Reog Ponorogo.

Konon, Lembusura adalah seorang putra bangsawan yang memiliki kesaktian. Namun, memiliki sifat yang buruk, sehingga ayahandanya mengutuknya dan ia dianggap sebagai pemuda yang bodoh, layaknya lembu (sapi).

Pesan Moral:

Kisah ini mengajarkan kita untuk selalu menepati janji yang telah diucapkan. Janganlah sekali-kali mengingkarinya karena akan merugikan orang lain.

Baca Juga:

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:

Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Oleh: Sumbi Sambangsari

Penerbit: Wahyumedia







Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0