paijopic

Mengenal Rumah Adat Jambi, Rumah Panggung Kajang Leko

DaerahKita 05/08/2020

Rumah adat yang satu ini konsep arsitekturnya berasal dari Marga Batin, salah satu kelompok masyarakat adat yang ada di Jambi. Konon kabarnya orang Batin berasal dari 60 tumbi (keluarga) yang pindah dari Koto Rayo. Hingga saat ini pun masyarakat Batin tetap mempertahankan adat istiadat yang budaya nenek moyang. Salah satu perkampungan Batin yang masih lestari adalah Kampung Lamo di Rantau Panjang.

Dikenal dengan sebutan Rumah Panggung Kajang Leko atau Rumah Lamo, rumah adat Jambi ini memiliki gaya seperti rumah adat di Indonesia pada umumnya. Yaitu berupa rumah panggung, sehingga penghuni dapat terhindar dari banjir. Selain itu rumah panggung juga untuk menghindari dari bahaya seperti serangan binatang buas. Namun begitu, rumah adat ini tetap memiliki beberapa ciri khas tersendiri yang membedakannya dari jenis rumah adat lainnya.

Rumah Panggung Kajang Leko memiliki bentuk rumah panggung yang dilengkapi dengan dua buah tangga, satu sebagai tangga utama dan lainnya sebagai tangga tambahan yang disebut dengan istilah penteh. Pada bangunan rumah adat ini terdapat tiga jenis pintu.

Yang pertama adalah pintu tegak yang berada di sebelah kiri bangunan dan berfungsi sebagai pintu utama. Ukuran pintu ini dibuat rendah agar tamu yang memasuki rumah menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada pemilik rumah.

Kemudian pintu masinding yang terletak di ruang tamu dan berfungsi sebagai jendela dan ventilasi yang sekaligus bisa digunakan untuk melihat ke bawah. Pintu ini juga akan memudahkan orang-orang yang berada di bawah untuk mengetahui apakah upacara adat yang diselenggarakan sudah dimulai.

Terakhir adalah pintu balik melintang yang merupakan jendela pada tiang bilik melintang. Pintu ini biasanya digunakan oleh pemuka adat, ninik mamak, alim ulama, dan cerdik pandai.

Atap rumah adat ini memiliki bentuk yang sangat unik karena menyerupai bentuk perahu dengan cabang melengkung dan saling bertemu. Lengkungan tersebut dikenal dengan istilah potong jerambah atau lipat kajang. Bentuk atap tersebut dimaksudkan untuk memudahkan terjadinya sirkulasi udara dan sekaligus memudahkan aliran air saat turun hujan.

Sedangkan kasau bentuk merupakan atap yang berada di ujung sebelah atas dengan bentuk miring yang terdapat pada bagian depan dan belakang rumah. Bentuknya yang miring berfungsi untuk mencegah air hujan masuk ke dalam rumah.

Pada bagian dinding terdapat ornamen ukiran dengan berbagai macam motif yang masing-masing memiliki makna filosofi tersendiri. Terdapat motif flora yang digunakan, antara lain berupa motif bungo tanjung, tampuk manggis dan bungo jeruk. Motif bungo tanjung ini biasanya diukirkan di bagian depan masinding sedangkan motif bungo jeruk di luar rasuk atau belandar dan di atas pintu.

Ukiran dengan motif flora ini untuk menunjukkan bahwa di jambi terdapat banyak tumbuh – tumbuhan. Selain itu juga sebagai lambang bahwa pentingnya peran hutan terhadap masyarakat Jambi. Yang menarik adalah, motif flora ini dibuat berwarna sehingga memberikan kesan cantik di dalamnya.

Selain motif flora juga terdapat motif fauna atau motif binatang. Motif yang digunakan adalah motif ikan yang merupakan lambang bahwa masyarakat Jambi adalah nelayan.

Motif fauna ini dibuat tidak berwarna. Motif fauna biasa diukir di bagian bendul gaho serta balik melintang. Hiasan yang berbentuk ikan ini sudah distilir ke dalam bentuk daun-daunan yang dilengkapi bentuk sisik ikan.

Rumah panggung ini berbentuk persegi panjang dengan ukuran panjang 12 meter dan lebar 9 meter. Rumah dilengkapi dengan 30 tiang penyangga berukuran besar. Yang terdiri dari 24 tiang utama dan 6 buah tiang pelamban. Tiang utamanya dipasang dalam bentuk enam dan berfungsi sebagai tiang bawah dan tiang kerangka bangunan.

Konstruksi rumah adat Jambi memiliki desain yang cukup unik, dimana pada bagian atap dikenal dengan sebutan gajah mabuk. Sementara pada langit-langit rumah menggunakan material yang disebut tebar layar yang fungsinya sebagai pemisah antara loteng dengan ruang penyimpanan. Terdapat juga tangga tambahan yang disebut pateteh untuk naik ke atas loteng.

Rumah yang menjadi identitas budaya Jambi ini dahulu merupakan bangunan untuk tempat tinggal. Sehingga berdasarkan fungsinya sebagai hunian, rumah adat ini terbagi menjadi beberapa ruangan seperti berikut.

  • Ruang Pelamban, yang terletak di bagian kiri bangunan dengan struktur terbuat dari material bambu belah yang sudah diawetkan, dimana susunannya dibuat jarang agar air bisa tetap mengalir. Ruangan ini difungsikan sebagai tempat untuk menerima tamu yang belum mendapatkan izin masuk ke dalam rumah.
  • Gaho, yang terletak di sebelah kiri bangunan namun dengan posisi memanjang dengan hiasan ukiran pada bagian dindingnya. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan persediaan makanan sekaligus sebagai area dapur untuk memasak.
  • Masinding, yang terletak di bagian depan kiri dengan ukuran yang cukup luas dan berfungsi sebagai tempat untuk menyelenggarakan musyawarah maupun ritual kenduri. Beberapa ornamen ukiran yang menghiasi memiliki motif bungo jeruk pada bagian luar dari belandar atas pintu, motif tampuk manggis pada bagian atas pintu masuk, dan motif bungo tanjung pada bagian depan masinding.
  • Ruang tengah, yang terletak di bagian tengah bangunan dan tidak terpisah dari masinding. Ruangan ini menjadi tempat berkumpulnya para wanita ketika acara kenduri sedang berlangsung. Ruang Balik Menalam, yang terbagi dalam beberapa ruangan. Seperti kamar tidur untuk orang tua, kamar tidur untuk anak-anak, dan ruang makan.
  • Ruang Bilik Malintang, yang terletak di sebelah kanan dengan posisi menghadap ke ruang masinding dan ruang tengah. Pada ruangan ini lantainya dibuat lebih tinggi dari ruangan lainnya.
  • Ruang bawah atau Bauman, yang merupakan satu-satunya ruangan dalam rumah adat Jambi yang tidak dilengkapi dengan dinding dan lantai karena berada di bawah rumah. Fungsinya adalah sebagai tempat memasak ketika ada acara kenduri atau kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Rumah-rumah kajang leko di Jambi ini khususnya di Rantau Panjang dibangun dalam satu kompleks yang berderet memanjang. Rumah-rumah ini juga dibangun saling berhadap-hadapan. Jarak antar rumah sekitar 2 meter. Dan di bagian belakang tiap rumah terdapat sebuah bangunan khusus untuk menyimpan padi. Bangunan ini sering disebut dengan bilik atau lumbung.

Masyarakat yang masih menggunakan rumah adat Jambi ini biasanya masyarakat yang berada di desa. Tepatnya di daerah Jambi Seberang yaitu jalan menuju jembatan Gentala Arasy.

Baca Juga:

Tags rumah adat seni budaya tradisi arsitektur edukasi wisata
Referensi:
  1. nyero.id
  2. www.romadecade.org
  3. kebudayaan.kemdikbud.go.id






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0