wahyumedia

Legenda Hantuen, Cerita Rakyat Kalimantan Tengah

DaerahKita 05/08/2020

Hantuen adalah makhluk jadi-jadian yang ditakuti oleh penduduk di daerah aliran Sungai Kahayan yaitu penduduk Dayak Ngaju dan Ot Danum. Mereka percaya bahwa hantuen merupakan manusia yang memiliki kemampuan gaib dan dapat menjelma menjadi hantu. Kemudian, ia akan mengisap darah bayi yang baru dilahirkan meskipun hal itu di luar kehendaknya, Hantuen juga dipercaya dapat melepaskan kepala dari tubuhnya (seperti hantu Leak yang berasal dari Bali).

Kisah tentang hantuen ini berawal dari kehidupan sebuah keluarga di daerah Baras Semayang. Keluarga tersebut memiliki seorang anak yang sangat cantik bernama Tapih. Orangtua Tapih hanyalah seorang pembuat kerajinan tangan seperti keranjang dari rotan dan topi tanggul dareh (topi dengan tepian yang lebar). Topi tersebut biasa digunakan saat upacara lingkaran hidup, misalnya sewaktu upacara pemandian anak untuk yang pertama kali.

Suatu hari, saat Tapih mandi di sungai, topinya hanyut. Karena topi itu bukan topi sembarangan, Tapih meminta bantuan orangtuanya untuk mencari topinya di sepanjang Sungai Rungan.

"Apa Ayah sudah menemukan topiku?" tanya Tapih kepada ayahnya.

"Belum. Semua orang yang tinggal di tepi sungai juga sudah ayah tanyakan, tapi tidak ada seorang pun yang menemukan topimu," jawab ayah Tapih.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan terus mencarinya, Ayah?" tanya Tapih dengan nada hampir putus asa. "Coba kita telusuri saja sungai ini. Siapa tahu kita akan menemukan topimu," jawab ayahnya.

Mereka terus mencari topi Tapih di sepanjang Sungai Rungan. Tanpa terasa, mereka sudah berada di Desa Sepang Simin. Akhirnya, usaha mereka membuahkan hasil. Topi yang mereka cari ternyata telah ditemukan oleh seorang pemuda dari desa tersebut. Ia bernama Antang Taung.

Sebagai tanda terima kasih, orangtua Tapih menghadiahkan emas kepada Antang Taung. Tidak disangka, pemuda ini menolaknya. Ternyata tali cinta sudah menjerat Antang Taung dan Tapih. Sebagai gantinya, pemuda itu meminta Tapih untuk menjadi istrinya. Permintaan itu pun disetujui oleh orangtua Tapih.

Setelah itu, orangtua Tapih sibuk mengurusi persiapan acara pernikahan anaknya. Antang Taung dan Tapih menikah sesuai dengan upacara adat setempat. Menurut adat di daerah tersebut, pasangan pengantin baru harus tinggal di rumah orangtua masing-masing secara bergiliran. Namun, untuk pergi ke desa masing-masing, mereka harus melewati hutan yang sangat lebat.

Agar keduanya dapat melaksanakan adat tersebut, akhirnya diambil cara untuk menghubungkan kedua desa tersebut dengan membuat jalan antara Desa Baras Semayang (asal desa Tapih) dengan Desa Sepang Simin (asal desa Antang Taung). Menurut penduduk setempat, jalan itu masih ada hingga kini. Jalan itu bernama Langkuas.

Untuk membuat jalan tersebut dibutuhkan tenaga kerja seperti kuli atau budak. Pembuatan jalan dimulai dari Baras Semayang. Awalnya, pekerjaan mereka diganggu makhluk gaib. Setiap para pekerja kembali ke gubuk mereka untuk beristirahat, selalu saja ada barang atau makanan di gubuk mereka yang hilang dicuri. Hal itu terjadi setiap hari.

Akhirnya para pekerja mendapatkan cara untuk menjebak pencuri itu. Mereka seolah-olah pergi bekerja seperti biasa, padahal mereka sedang mengawasi gubuk mereka dari balik semak-semak. Ketika para pekerja tersebut mengawasi gubuk mereka, tiba-tiba tampak seekor hewan angkes (sejenis landak) yang masuk ke dalam gubuk. Ketika masuk ke gubuk, hewan itu menggoyang-goyangkan tubuhnya. Tiba-tiba tubuh hewan itu berubah menjadi seorang pemuda yang sangat tampan.

Tidak melewati kesempatan yang ada, para pekerja itu kemudian meringkus makhluk jadi-jadian tersebut. Makhluk jadi-jadian itu pun tidak bisa berkutik. "Tolong jangan sakiti aku. Ampuni aku!" teriak makhluk jadi-jadian itu.

"Kau sudah terlalu banyak mencuri makanan dan barang-barang kami. Sekarang kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!" ucap para pekerja yang mengerumuni makhluk itu.

"Baiklah...baiklah...aku akan menebus kesalahanku. Tapi kalian jangan menyakitiku. Aku mohon...," pinta makhluk jadi-jadian yang sudah berubah menjadi seorang pemuda.

"Apa yang bisa kau lakukan untuk kami?" tanya para pekerja. "Aku akan membantu kalian menyelesaikan pekerjaan membuat jalan," ucap pemuda itu.

Akhirnya, mereka berembuk mengenai permintaan pemuda itu. Mereka pun menyetujuinya. Tidak berapa lama, pemuda itu dibebaskan. Sang pemuda melaksanakan janjinya untuk membantu membuat jalan. Keajaiban terjadi lagi, pemuda jadi-jadian itu mampu menyelesaikan pembuatan jalan yang sangat panjang itu dalam waktu tiga hari.

Tapih dan Antang Taung yang mendengar kabar itu sangat kagum dengan si pemuda. Kemudian, mereka mendatangi dan mengambilnya sebagai anak angkat. Berkat jalan tersebut, Tapih dan Antang Taung dengan mudah mondar-mandir ke desa masing-masing tanpa harus takut melewati hutan yang sangat lebat.

Beberapa bulan kemudian, Tapih mengandung. Ketika Tapih berada di Desa Sepang Simin, ia mengidam makan ikan kali. Dengan sigap, Antang Taung mencoba meluluskan permintaan istri tercintanya. Ia pergi ke sungai untuk menangkap ikan. Sebenarnya hasil tangkapannya kali itu sangat lumayan. Namun karena hujan saat itu turun dengan lebat, ia pun lari pulang dengan tergesa-gesa. Tanpa sengaja, ia telah meninggalkan seekor ikan tomang di dalam perahunya.

Esok harinya, Antang Taung kembali ke perahunya untuk mengambil ikan yang tertinggal. Betapa terkejutnya Antang Taung, bukannya ikan yang ia temukan di dalam perahunya melainkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik. Dengan bahagia, Antang Taung membawa bayi mungil itu ke rumahnya. Ia menceritakan kejadian itu kepada istrinya. Mereka mengangkat bayi mungil itu sebagai anak.

Hari berganti hari. Keanehan muncul dari bayi mungil itu. Bayi perempuan itu tumbuh menjadi gadis dewasa dengan cepat dalam waktu beberapa bulan. Kedua anak angkat Tapih dan Antang Taung itu pun sering bertemu. Tidak disadari, benih-benih cinta muncul di antara gadis jelmaan ikan tomang dengan pemuda jelmaan hewan angkes itu. Mereka menjalin cinta dan akhirnya dinikahkan oleh Tapih dan Antang Taung.

Tetapi kebahagiaan suami istri jelmaan itu tidak berlangsung lama. Ketika sang istri melahirkan anak laki-laki, tidak berapa lama anak itu meninggal dunia. Kesedihan menyelimuti kedua makhluk jelmaan itu.

Kesedihan ternyata tidak hanya datang pada suami istri jelmaan itu, tetapi juga pada Tapih dan Antang Taung. Putra pertama suami istri tersebut meninggal dunia. Menurut adat mereka, orang yang telah meninggal dunia harus dilakukan dua kali upacara kematian, sebelum arwahnya dapat menuju Lewu Tatau (surga orang Dayak Ngaju).

Pada upacara pertama, jenazah dikubur. Pada upacara kedua, tulang belulang jenazah tersebut dibakar. Bagi masyarakat setempat, upacara kedualah yang paling penting dan dilakukan upacara yang sangat mewah. Sebab, pada upacara yang kedua, dipercaya roh orang yang telah meninggal akan bebas dari badan kasarnya. Upacara ini disebut dengan Tiwah.

Pasangan manusia jelmaan itu mendengar bahwa saudara angkatnya hendak ditiwah. Mereka juga menginginkan tulang belulang anaknya ditiwah. Tapi Antang Taung dan Tapih tidak menyetujuinya. Namun, pasangan manusia jelmaan itu tidak menggubrisnya. Mereka tetap ingin melaksanakan tiwah untuk anak mereka.

Kejadian yang tidak diinginkan pun terjadi. Ketika kuburan anak jelmaan itu digali, tak ada yang menduga bahwa yang terdapat dalam kuburan tersebut bukanlah tulang belulang manusia, melainkan tulang belulang hewan dan ikan. Masyarakat yang melihat peristiwa itu menjadi ramai membicarakannya. Karena malu, pergilah suami istri jelmaan itu keluar dari Desa Sepang Simin. Mereka masuk ke dalam hutan belantara dan membuat sebuah desa.

Di dalam hutan tersebut, pasangan jelmaan tersebut melahirkan keturunannya dan kemudian beranak pinak sehingga menjadi keluarga besar. Keturunan makhluk jelmaan tersebut kemudian disebut dengan nama Hantuen. Menurut cerita penduduk setempat, keturunan Hantuen ini banyak yang keluar dari desa mereka dan banyak yang berbaur dan menikah dengan manusia biasa. Dengan demikian, tidak ada lagi keturunan Hantuen asli.

Orang yang di dalam tubuhnya mengalir darah Hantuen dipercaya oleh masyarakat setempat Kalimantan Tengah memiliki ilmu gaib untuk mengubah dirinya menjadi hantu jadi-jadian (Hantuen). Siang hari mereka menjadi manusia biasa, pada malam hari mereka berubah menjadi hantu tanpa tubuh. Ketika sudah berubah menjadi Hantuen, mereka akan mencari ibu yang baru melahirkan dan anak yang baru dilahirkan. Lalu mereka mengisap darahnya.

Hal ini hanyalah sebuah legenda dari penduduk sepanjang Sungai Kahayan. Untuk memperkuat kebenaran legenda tersebut, para penduduk sekitar menunjukkan jalan yang telah dibuat oleh manusia jelmaan hewan angkes tersebut. Jalan itu berada di antara Baras Semayang dan Sepang Simin. Jalan itu bernama Langkuas.

Pesan Moral:

Jangan melakukan apa yang telah dilarang oleh orangtua. Sebab, akan menimbulkan kerugian bagi diri kita sendiri.

Baca Juga:

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi murid
Referensi:

Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Oleh: Sumbi Sambangsari

Penerbit: Wahyumedia







Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0