APNI

Arie Frederik Lasut, Pahlawan Pertambangan dan Geologi dari Sulawesi Utara

DaerahKita 30/07/2020

Arie Frederik Lasut lahir pada 6 Juli 1918 di Minahasa, Sulawesi Utara. Ayahnya bernama Darius Lasut, sedangkan ibunya bernama Ingkan Supit. Lasut menempuh pendidikan dasar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS, sekolah Belanda untuk bumiputera) Tondano, kemudian melanjutkan ke sekolah guru di Hollandsche Indische Kweekschool (HIK, Sekolah Guru Bantu) Ambon. Pada 1933, Lasut lulus dari HIK Ambon dengan menjadi salah satu siswa yang terpilih untuk melanjutkan sekolah ke HIK Bandung.

Lasut hanya bertahan selama setahun di Bandung dan tidak melanjutkan studinya. Kemudian Lasut pergi ke Jakarta untuk mengikuti pendidikan di Algemeene Middelbare School (AMS, sekolah pendidikan menengah umum). Pada 1937, Lasut lulus dari AMS, lalu melanjutkan ke sekolah kedokteran di Geneeskundige Hoogeschool te Batavia (Sekolah Tinggi Kedokteran), tetapi tidak sampai lulus karena kesulitan dana.

Pada 1938, Lasut bekerja di Departement van Economische Zaken (Departemen Urusan Ekonomi). Satu tahun kemudian beliau mendapatkan beasiswa dari Dinas Pertambangan untuk melanjutkan pendidikan di Technische Hooge School (THS) di Bandung, atau sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB). Pendidikannya harus terhenti karena Perang Dunia II. Sewaktu kuliah di THS Bandung, Lasut bergabung dengan Corps Reserve Officer untuk membantu Belanda melawan Jepang. Lasut dikirim dalam pertempuran melawan Jepang di Ciater, Subang, Jawa Barat.

Pada masa pendudukan tentara Jepang, Lasut bersama R. Sunu Sumosusastro dan beberapa orang Indonesia lainnya bekerja dan diberi posisi di Chishitsu Chosacho (Jawatan Geologi) di Bandung. Pada masa revolusi kemerdekaan, saat terjadi Agresi Militer Belanda, Jawatan Tambang dan Geologi dipindahkan ke Tasikmalaya, kemudian dipindahkan lagi ke Kota Magelang. Lasut pun ikut pindah kesana. Di Magelang, Lasut mendirikan Sekolah Pertambangan dan Geologi, yaitu dengan jenjang Sekolah Pertambangan Rendah, Sekolah Laboran Geologi, serta Sekolah Pertambangan Geologi Menengah dan Tinggi.

Lasut kemudian dipercaya menjadi Kepala Dinas Pertambangan RI. Beliau sangat paham dan mengetahui kekayaan negara. Mengetahui hal itu, Belanda pun membujuknya untuk bekerja sama dengan tawaran gaji yang tinggi. Namun, Lasut menolak tawaran tersebut. Belanda yang tidak terima pun menculik dan menembak Lasut di Pakem, Sleman, Yogyakarta.

Arie Frederik Lasut wafat pada 7 Mei 1949 dan dimakamkan di Yogyakarta. Pada 20 Mei 1969, berdasarkan Keppres No.12/TK/1969, pemerintah menobatkan Arie Frederik Lasut sebagai pahlawan nasional.

Baca Juga:

Tags pahlawan sejarah nasional edukasi tokoh gerilya pejuang biografi ITB
Referensi:
  1. Buku Pahlawan-pahlawan Indonesia Sepanjang Masa, oleh Didi Junaedi, Indonesia Tera, 2014
  2. Sumber lainnya






Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0