wahyumedia

Janji Seorang Raja Bijaksana - Cerita Rakyat Kalimantan Selatan

DaerahKita 20/07/2020

Dahulu, di suatu negeri antah berantah hiduplah seorang janda dengan anaknya yang masih kecil. Mereka hidup sangar sederhana di sebuah gubuk tua. Gubuk itu tidak jauh dari istana. Negeri itu dipimpin oleh seorang raja yang baik hati, arif, dan bijaksana. Raja tersebut sangat dekat dengan rakyatnya, dari yang tua sampai anak kecil.

Setiap sore, banyak anak kecil yang bermain di halaman istana. Begitu juga halnya dengan anak janda tersebut. Karena miskin, maka mainan anak itu pun hanya seekor nyamuk yang diikat dengan benang. Kemanapun anak itu pergi, nyamuk itu selalu dibawanya.

Suatu hari, ketika anak janda miskin itu bermain di halaman istana bersama teman-temannya sampai hari mulai gelap. Karena takut dimarahi oleh ibunya, anak tersebut pulang dengan tergesa-gesa. Sebelum ia kembali ke gubuknya, ia sempat menemui sang raja.

"Baginda yang baik, hamba harus segera pulang. Sebab, jika hamba terlambat sampai rumah, ibu hamba pasti akan marah. Bolehkah hamba menitipkan nyamuk hamba ini di istana? Besok hamba akan main ke istana lagi," ucap anak itu.

"Boleh. Kau bisa ikatkan nyamukmu di tiang tdepan istana," ucap sang raja.

Keesokan hari, anak itu kembali ke istana untuk bermain di halaman istana bersama teman-temannya. Namun, nyamuk kesayangannya itu sudah tidak ada di tiang tempat ia mengikatnya kemarin. "Wah, dimana nyamukku?" tanya anak itu dalam hati.

Ketika ia melihat ke samping, ternyata ada seekor ayam jantan di dekat tiang tersebut. Ia pun berpikir bahwa ayam jantan itulah yang telah memakan nyamuk kesayangannya.

Anak itu segera menemui sang raja. "Baginda, nyamuk hamba hilang. Sepertinya dimakan oleh ayam jantan milik Baginda."

"Kalau begitu, kamu ambil saja ayam jantan itu sebagai ganti nyamuk yang dimakannya," jawab sang raja. "Terima kasih, Baginda," jawab anak itu.

Anak itu kembali bermain bersama teman-temannya. Kemanapun ia pergi, ayam jantan itu selalu dibawanya. Ayam jantan itu juga diikatnya dengan tali. Ketika ia sedang asyik bermain, ayam jantan itu melepaskan diri.

Anak itu segera mencari-cari ayam jantan miliknya. Ternyata, ayam itu pergi ke tempat ibu-ibu yang sedang menumbuk padi dengan lesung. Karena lapar, ayam tersebut berusaha mengambil bulir-bulir padi yang berada di lubang lesung. Meskipun sudah dihalau berkali-kali, ayam tersebut tetap masuk ke dalam lesung. Karena kesal, seorang ibu memukulkan lesungnya ke arah ayam tersebut sehingga ayam tersebut jatuh menggelepar-gelepar ke tanah dan mati.

Melihat ayamnya mati, ia sangat sedih lalu berlari menemui raja sambil menangis. Ia melaporkan kejadian yang menimpa ayam kesayangannya kepada sang raja.

"Sudah,kau jangan menangis lagi. Sekarang, kau ambillah lesung itu sebagai ganti ayam jantanmu yang telah mati," kata sang raja menenangkan hati si anak.

Betapa bahagianya hati anak itu. Ia berniat membelikan lesung itu kepada ibunya. Karena sudah sore, maka ia menitipkan lesung tersebut kepada raja.

"Kau bisa sandarkan lesung itu di bawah pohon nangka yang terdapat di halaman istana," ucap raja.

Anak itu menuruti petunjuk raja. Ia menyandarkan lesungnya di bawah pohon. Keesokan harinya, anak itu kembali ke istana untuk bermain. Ketika selesai bermain dan akan kembali ke gubuknya, ia teringat lesung miliknya. Anak itupun pergi mengambil lesung miliknya. Tapi betapa kagetnya ia melihat kondisi lesungnya sudah tidak seperti waktu ia tinggalkan kemarin. Lesung itu telah patah. Ternyata, di sebelah lesung tersebut terdapat sebuah nangka yang sangat besar. Ia kembali melapor kepada raja.

"Baginda, lesungku telah patah tertimpa buah nangka," keluhnya kepada raja.

"Kalau begitu, kamu ambil nangka itu sebagai pengganti lesungmu yang patah," ucap raja sambil tersenyum.

"Baiklah, baginda. Terima kasih. Tapi, hari sudah malam, aku tidak kuat membawa nangka yang besar ini sampai ke rumah. Bolehkan aku menitipkan nangka ini di istana? Besok aku akan mengambilnya bersama temanku," pinta si anak kepada sang raja.

"Baiklah kalau begitu. Letakkan saja nangka itu di samping pintu dapur," ucap raja.

Anak itu pun mengikuti perintah sang raja. Diletakkanlah nangka tersebut dengan sangat hati-hati. Nangka yang sangat ranum tersebut mengeluarkan aroma yang sangat menggoda. Setelah anak tersebut pergi, putri raja yang sebaya dengannya mencium bau harum nangka.

"Mmm...baunya sangat enak. Wah aku sangat ingin memakan nangka itu. Tapi dimana nangka itu berada? Mungkin bibi meletakkannya di dapur karena sengaja menyimpannya untukku," pikir sang putri raja.

Kemudian ia pergi ke dapur mencari keberadaan nangka. Ia terus mencari tersebut sampai akhirnya menemukan nangka yang sangat besar dan sangat ranum di samping pintu dapur.

"Ah...ini dia nangka yang aku cari-cari," ucap putri saja dalam hati.

Ia pun menyuruh pembantu istana untuk membuka nangka tersebut. Setelah nangka dibuka, putri raja langsung memakannya sampai puas. Ia tidak mengetahui bahwa nangka tersebut milik orang lain.

Esok harinya, ketika si anak ingin mengambil nangka miliknya, ternyata nangka tersebut sudah tidak berada di tempat ia meninggalkannya. Kemudian, ia melihat tempat sampah istana. Ternyata di dalam tempat sampah itu banyak terdapat biji-biji nangka beserta kulit nangka. Hati anak itu kembali kecewa. Nangka miliknya sudah dimakan oleh orang lain.

Anak itu kembali menemui sang raja dan melaporkan kejadian tersebut. Baginda yang mendengar cerita anak itu kembali tersenyum. Ia berkata dengan bijak, "Nak, ketika nyamuk peliharaanmu ditelan ayam, aku menyerahkan ayam itu kepadamu. Ketika ayam itu mati terkena pukulan lesung, aku menyerahkan lesung itu kepadamu. Ketika lesung itu patah karena kejatuhan buah nangka, aku juga serahkan nangka itu kepadamu. Nah, sekarang, nangka itu telah dimakan oleh putriku, mau tidak mau aku juga menyerahkan putriku kepadamu," ucap sang raja.

Saat itu, si anak tidak mengerti perkataan sang raja karena masih terlalu kecil. Akhirnya, ketika anak itu sudah beranjak dewasa dan menjadi pemuda tampan, sedangkan putri raja sudah menjadi gadis cantik, raja menikahkan keduanya. Mereka menikah dengan pesta yang sangat meriah. Ibu dari pemuda itu pun diboyong ke istana dan hidup bahagia.

Pesan Moral:

Jadilah pemimpin yang selalu menepati janji bagi rakyatnya tanpa pandang usia, harta, atau kekuasaan.

Tags cerita kisah rakyat legenda sastra edukasi budaya tradisi dongeng anak siswa literasi fiksi
Referensi:

Buku Kumpulan Cerita Rakyat Nusantara

Oleh: Sumbi Sambangsari

Penerbit: Wahyumedia







Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0