sindonews

Sejarah Jam Gadang Ikon Kota Bukittinggi Sumatera Barat

DaerahKita 29/06/2019

Kalau menyebut nama kota Bukittinggi, kita mungkin langsung teringat dengan Jam Gadang, bangunan yang identik dengan dengan Bukittinggi dan merupakan landmark kota tersebut. Bangunan peninggalan era Hindia Belanda ini adalah sebuah menara penunjuk waktu yang berada di pusat kota Bukittinggi, provinsi Sumatera Barat. Monumen Jam Gadang setinggi 26 meter berdiri di atas bangunan dasar seluas 13 x 4 meter di tengah Taman Sabai Nan Aluih. Lokasinya dikelilingi oleh Pasar Bawah, Pasar Atas, Plaza Bukittinggi dan Istana Bung Hatta, serta dianggap sebagai patokan titik sentral (titik nol) Kota Bukittinggi. Kata “gadang” pada nama Jam Gadang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “besar”. Karena ukuran jam yang terdapat di keempat sisi menara tersebut memang cukup besar, diameternya mencapai 80 sentimeter, sehingga bangunan tersebut dinamakan seperti itu.

Jam Gadang dibangun oleh Pemerintah Hindia-Belanda atas perintah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda. Jam ini merupakan hadiah bagi Sekretaris Kota atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) yang menjabat saat itu yakni HR Rookmaaker. Peletakan batu pertama jam ini dilakukan putra pertama Rookmaaker yang saat itu masih berumur 6 tahun. Menara jam ini dirancang oleh arsitek asli Minangkabau, Jazid Rajo Mangkuto Sutan Gigi Ameh. Pembangunannya secara resmi selesai pada tahun 1926 dengan menghabiskan dana mencapai 3.000 Gulden, sebuah nilai yang cukup besar saat itu.

Baca Juga:

generasimudaid
Jam Gadang Bukittinggi tampak indah di waktu malam

Konstruksi bangunan ini tidak menggunakan rangka besi dan semen, tetapi menggunakan campuran batu kapur, pasir, dan putih telur sebagai perekat. Bangunan Jam Gadang memiliki empat tingkat. Tingkat pertama merupakan ruangan petugas, tingkat kedua tempat bandul pemberat jam. Pada tahun 2007, bandul tersebut sempat patah akibat gempa, namun langsung diganti oleh pemerintah Bukittinggi. Kemudian pada tingkat ketiga merupakan tempat mesin jam berada dan tingkat keempat merupakan puncak menara dimana lonceng jam ditempatkan. Pada bagian lonceng tertera pabrik pembuat jam yaitu Vortmann Relinghausen. Vortman adalah nama belakang pembuat jam, Benhard Vortmann, sedangkan Recklinghausen adalah nama kota di Jerman yang merupakan tempat diproduksinya mesin jam pada tahun 1892.



Mesin pada Jam Gadang didatangkan dari Belanda langsung melalui pelabuhan Teluk Bayur. Sistem yang bekerja di dalamnya menggerakkan jam secara mekanik melalui dua bandul besar yang saling menyeimbangkan satu sama lain. Sistem tersebut membuat jam ini terus berfungsi selama bertahun-tahun tanpa sumber energi apapun. Perlu diketahui, mesin yang diberi nama Brixlion tersebut dibuat secara eksklusif, yaitu hanya dua unit saja di dunia. Satu digunakan pada Jam Gadang, satu lagi digunakan jam besar Big Ben. Karena itulah Jam Gadang kadang disebut sebagai kembaran Big Ben. Padahal secara fisik Jam Gadang dan Big Ben sangat berbeda. Jam Gadang didesain dengan gaya modern dan berbentuk menara khas rumah adat Minangkabau setinggi 26 meter. Sedangkan Big Ben dibuat dengan gaya Gothik Victoria tingginya mencapai 96 meter.

Big Ben adalah nama sebuah lonceng besar di tengah menara jam yang terletak di sebelah utara Istana Westminster, London, Inggris yang selesai dibangun pada 1858. Nama Big Ben sering dipakai untuk menyebut menara jam itu secara menyeluruh. Meskipun secara resmi menara di London tersebut diberi nama Elizabeth Tower.

boosfm
Bagian atapnya memiliki ciri khas Minangkabau

Keseluruhan mesin penggerak Jam Gadang berasal dari Jerman termasuk lemari pelindung mesin yang terbuat dari kayu jati yang dibuat pada jaman Belanda itu dilapisi kaca dengan ketebalan 5 cm dan semuanya itu hingga kini dirawat apik oleh petugas. Setiap 10 hari sekali mesin diberi minyak dengan cara diteteskan agar mesin tetap berjalan dan tiap empat bulan sekali dilakukan servis ekstra pada setiap bagian mesin.

 

Sejak pertama kali dibangun, Jam Gadang telah mengalami perubahan khususnya pada bagian atapnya. Awalnya atap menara berbentuk bulat dengan patung ayam jantan di atasnya yang menghadap ke arah timur. Pada masa penjajahan Jepang, atap tersebut direnovasi menjadi bentuk seperti Pagoda atau Klenteng. Kemudian setelah Indonesia merdeka, atap menara tersebut diubah menjadi bergaya bagonjong seperti adat rumah Minangkabau sekaligus menjadi simbol dari suku Minangkabau.

Renovasi terakhir pada Jam Gadang dilakukan pada tahun 2010 oleh Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI) yang bekerja sama dengan pemerintah kota Bukittinggi dan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan pada tanggal 22 Desember 2010, tepat pada hari ulang tahun kota Bukittinggi yang ke-262.

travelingyuk
Setelah revitalisasi kawasan sekitarnya, Jam Gadang makin tampak mempesona

Ada yang unik pada Jam Gadang, yaitu angka Romawi yang terdapat pada jam tersebut. Tulisan angka empat yang ada di jam tersebut menyimpang dari pakem, karena tertulis IIII, bukan IV. Keunikan penulisan angka pada jam tersebut menyisakan tanda tanya bagi yang melihatnya. Apakah penulisan angka tersebut merupakan sebuah kesalahan atau disengaja.



Beberapa ahli menyatakan angka 4 dalam huruf romawi awalnya memang tertulis IIII. Hal ini terjadi jauh sebelum pemerintahan Louis XIV . Dan penulisan angka empat dengan "IV" dikatakan sebagai perubahan penulisan angka romawi yang awalnya IIII. Hal ini dibuktikan pada jam matahari yang yang dibuat sebelum abad ke-19, hampir semuanya menggunakan IIII untuk angka empat. Termasuk Jam Gadang, karena dibuat pada awal 19 maka penulisan angkat empat masih menggunakan simbol IIII.

Kini, selain sebagai monumen kota Bukittingi, Jam Gadang juga menjadi objek destinasi wisata para pelancong baik domestik maupun asing. Dari puncak menara, para wisatawan bisa menikmati pemandangan kota Bukittinggi yang terdiri dari bukit, lembah dan bangunan yang berjejer di tengah kota. Saat ini, dengan diperluasnya taman di sekitar menara Jam Gadang, tempat ini menjadi ruang terbuka bagi masyarakat sekitar yang ingin menyelenggarakan semacam event-event tertentu, seperti bazar, festival dan lain-lain. Menara jam ini terus menjadi kebanggaan warga setempat dan ini terpampang di berbagai jenis souvenir khas kota ini. Pada Juli 2018, giliran kawasan Jam Gadang yang direvitalisasi oleh pemerintah. Pengerjaannya memakan biaya Rp18 miliar dan rampung pada Februari 2019, membuat Jam Gadang semakin mempesona bagi para pelancong.

Tags sejarah budaya bangunan arsitektur sipil wisata
Referensi: Dari berbagai sumber





Semua Komentar
    Belum ada komentar
Tulis Komentar

Upah Minimum Provinsi (UMP) Terbaru

UMP 2019 Hasil Pencarian
UMP 2018 Hasil Pencarian
Kenaikan (%) Perubahan

Game Suwit Jawa v2.0